Tag Archives: purwakarta

BADAK JADI SIMBOL SITU BULEUD


Semua orang tahu, Situ Buleud merupakan salah satu obyek wisata di jantung  kota Purwakarta yang cukup asri dan nyaman bagi pengunjung. Penataan dan pengembangan kawasan ini yang terus berkelanjutan, telah membuat Situ Buleud makin diminati dan banyak dikunjungi para wisatawan. Berbagai fasilitas bagi pengunjung terus ditingkatkan. Misalnya untuk olah raga, telah disediakan jogging track. Atau bagi pencinta makanan, cukup banyak pilihan makanan yang dapat dinikmati seusai berolah raga.

Pesona wisata Situ Buleud setidaknya bukan cerita baru bagi warga di wilayah Purwakarta. Malahan, gaung tempat wisata ini pun suaranya berkumandang hingga di wilayah kabupaten tetangganya, seperti Karawang dan Subang, malahan sampai pada  warga yang berdomisili hingga di wilayah Bandung maupun Jakarta.

Baca lebih lanjut

LEMBUR KAHURIPAN, DESA WISATA KAMPUNG TAJUR


Kampung Tajur ini merupakan sebuah daerah yang dikembangkan sebagai tempat wisata berbasis wawasan lingkungan dan budaya setempat dengan melibatkan peran serta masyarakat yang tinggal di area tersebut (Ecotourism based on community development).
Tradisi dan Budaya
Tradisi dan budaya Sunda masih kental melekat pada masyarakat kampung Tajur. Hal ini langsung terlihat pada saat berkunjung kesana. Lingkungan yang masih asri, dengan rumah pangung khas Sunda menunjukkan sisi budaya yang kuat. Baca lebih lanjut

MELIHAT DESA PERADABAN DI KABUPATEN PURWAKARTA


PURWAKARTA-Desa CUlngga Kecamatan Darangdan. Desa Sukahaji Kecamatan Tegalwaru dan Desa Karangmuku Kecamatan Bungursarl. merupakan desa di Kabupaten Purwakarta yang masuk nominasi sebagai Desa Membangun Menuju Desa Peradaban dlJawa Barat (Jabar).

Ketiga desa tersebut, memiliki karakteristik dalam pembangunan dan mensejahterakan masyarakatnya menuju desa man-dirt. Karenanya, bukanlah suatu kebetulan jika tiga dari lima desa yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Purwakarta Itii termasuk dart 100 desa dart 17 kabupaten di Jawa Barat terpilih sebagai Desa Peradaban. Baca lebih lanjut

POTENSI EKONOMI PURWAKARTA


Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat yang memiliki luas wilayah 971,72 km2. Kabupaten ini membawahi 17 kecamatan dengan populasi penduduk sebesar 782.362 orang. Penduduk laki-laki berjumlah 391.061 jiwa, selebihnya yaitu 391.301 jiwa adalah perempuan. Tingkat pendidikan masyarakat Purwakarta relatif rendah. Mereka yang telah menamatkan pendidikan tingkat atas, diploma dan starta hanya 13,6 persen, sisanya 86,4 persen pendidikan tertinggi mereka tingkat menengah. Baca lebih lanjut

KEINDAHAN PURWAKARTA


Untuk mewujudkan Purwakarta Berkarakter, Kabupaten Purwakarta akan ditata dengan satu konsep terpadu yang digali dari budaya Purwakarta tempo dulu. Baca lebih lanjut

POSISI GEOGRAFIS PURWAKARTA


Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Barat  yang terletak diantara 107o30′ – 107o40′ BT dan 6o25′ – 6o45′ LS. Secara administratif, Kabupaten Purwakarta mempunyai batas wilayah sebagai berikut: Baca lebih lanjut

SEJARAH PURWAKARTA


Kronologis Sejarah.
Sebelum Masa Penjajahan
Tata Pemerintahan Daerah Pada Masa Sebelum Penjajahan Belanda
Keberadaan Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan VOC. Sekitar awal abad ke-17 Sultan Mataram mengirimkan pasukan tentara yang dipimpin oleh Bupati Surabaya ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya adalah untuk menundukkan Sultan Banten. Tetapi dalam perjalanannya bentrok dengan pasukan VOC sehingga terpaksa mengundurkan diri.
Setelah itu dikirimkan kembali ekspedisi kedua dari Pasukan Mataram di bawah pimpinan Dipati Ukur serta mengalami nasib yang sama pula. Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni (VOC), Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda: “Karawaan”).

Baca lebih lanjut