PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERBASIS NILAI – NILAI KESUNDAAN


Pembangunan Pendidikan yang Berbasis Nilai-Nilai Kesundaan

(Sunda Nanjung Lamun Pulung Turun Ti Galunggung)
Oleh: Dedi Mulyadi


Pengantar

altImplementasi pembangunan secara menyeluruh (holistic comprehenship) paling tidak harus memperhatikan aspek-aspek kebutuhan (need, drive, and motive) masyarakat lokal (local community), keseimbangan alam, nilai-nilai, filosofi hidup dan kehidupan masyarakat lokal (Contoh filosopi dalam Budaya Sunda: ”Hirup Kudu Jeung Huripna”, artinya bahwa selain kita berupaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi kita juga perlu memikirkan kelangsungan hidup di masa yang akan dating/kudu inget anak incu).

Tujuan akhir dari pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat (social welfare) dalam arti sejahtera lahir dan bathin. Kesejahteraan lahir akan terkait dengan tingkat kehidupan baik yang menyangkut ekonomi maupun strata sosial, sementara kesejahteraan bathin akan berkaitan dengan believe system yang ada pada dirinya. Bagaimana manusia memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance) serta bagaimana cara dia mengaktualisasikan dirinya (self actualization), “Saha Urang, Keur Naon Urang, Jeung Rek Kamana Urang”.

Konsepsi pembangunan paling tidak akan terkait dengan tiga hal, yaitu: Pertama, tujuan dari pembangunan, yang secara umum diarahkan sebagai pola gerak yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Kedua, sasaran dari pembangunan, yaitu manusia berserta aktivitas-aktivitasnya yang didasarkan pada lingkungan alam, kondisi sosial dan supranatural. Ketiga, substansi/aspek dari pembangunan, yaitu meliputi pembangunan infrastruktur dan prasarana dasar, ekonomi, serta socio-cultural.

Manusia sebagai sasaran dan pelaku pembangunan merupakan fokus dan lokus dari pembangunan. Manusia sebagai sasaran diartikan bahwa tujuan pembangunan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat (social welfare), sedangkan sebagai pelaku pembangunan adalah menempatkan faktor manusia sebagai elemen yang melaksanakan aktivitas demokratis-partisipatif dalam pembangunan, mulai dari identifikasi kebutuhan (need assesment), perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi/pengendalian.

Penetapan tujuan pembangunan, sasaran pembangunan, penentuan substansi/aspek dari pembangunan, organ yang merealisasikannya adalah manusia. Pada posisi demikian, manusia bisa berperan sebagai subjek/pelaksana pembangunan (bagian dari input), dan berperan sebagai objek pembangunan (output dari pembangunan). Manusia adalah mahkluk sosial, bersifat dinamis, serta karena predikatnya sebagai makhluk sosial tersebut maka manusia juga merupakan makhluk yang berbudaya atau berkebudayaan. Makhluk yang berbudaya atau berkebudayaan adalah karena manusia memiliki pikiran dan perasaan, sehingga dengan kekuatan akal pikiran dan kekuasaan yang dimilikinya tersebut manusia dapat mencipta, dalam bentuk hasil cipta, karsa, dan rasa. Hasil-hasil tersebut secara umum misalnya terjelma dalam bentuk politik, ekonomi, sosial, teknologi, transportasi, komunikasi, religi. Sehingga sangat beralasan ketika ada upaya untuk melaksanakan proses pembangunan (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi) politik, ekonomi, sosial, teknologi, transportasi, komunikasi, dan religi yang berorientasi kepada budaya atau berbasiskan budaya lokal masyarakat setempat.

Titik sentral proses pembangunan pada saat ini terletak pada upaya, bagaimana suatu daerah mampu menciptakan sumber daya manusia yang unggul, membangun sektor ekonomi masyarakat lokal yang kokoh (rentan terhadap krisis moneter dan ekonomi), serta bagaimana suatu daerah mampu menjaga keseimbangan alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Selama ini proses pembangunan yang telah kita laksanakan, menyangkut sumber daya manusia, ekonomi masyarakat, serta lingkungan hidup yang terlalu berorientasi kepada konsep-konsep yang diadopsi dari konsep masyarakat Barat, sedangkan konsep tersebut secara kasat mata tidak sesuai dengan budaya masyarakat lokal setempat. Seandainya kita mau sedikit terbuka, dan mau berintrospeksi, terutama menyangkut Budaya Sunda, banyak nilai-nilai kesundaan yang berkaitan dengan orientasi pembangunan dalam bidang peningkatan sumber daya manusia, ekonomi, dan lingkungan hidup. Dalam bidang sumber daya manusia misalnya, bagi masyarakat sunda ada filosopi yang sudah tidak asing, yaitu membentuk peserta didik yang “Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer”. Konsep Cageur berkaitan dengan bagimana membentuk SDM yang sehat jasmani dan rohani, bageur berkaitan dengan bagimana membentuk SDM yang bermoral, tahu tata krama, tahu sopan santun, bener berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, pinter berkaitan dengan bagimana membentuk SDM yang cerdas dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsep singer terkait dengan masalah keterampilan.

“Sunda Nanjung Lamun Pulung Turun ti Galunggung”, merupakan uangkapan urang sunda yang mempunyai makna bahwa “orang sunda akan maju/gemilang (nanjung) kalau cahaya/sinar (pulung) memancar dari jati diri nan agung (galunggung). Mungkin ungkapan ini nyaris tak terdengar ditelinga kita, apalagi pada generasi muda pada saat ini, pada kalangan orang tua pun mungkin tidak banyak yang mengerti makna ungkapan tersebut.

Tiga makna ungkapan tersebut adalah (1) Sunda nanjung yang memiliki makna bahwa kita akan mencapai kegemilangan prestasi bila (2) Pulung yang maknanya cahaya/sinar memancar dari (3) Galunggung : yang berasal dari kata galuh (galih) artinya jatidiri yang agung (besar). Makna ungkapan tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa bila kita ingin mencapai suatu prestasi yang gemilang maka kita perlu memiliki jatidiri yang besar. Besar disini mempunyai makna “Luhung Ku Elmu Jembar Ku Pangabisa” atau memiliki pengetahuan, wawasan, keterampilan yang lengkap serta memiliki sikap dan perilaku yang paripurna”. Bila semua itu terpancar dari diri orang sunda, niscaya kemajuan akan diraihnya.

Penjabaran dari makna tersebut, maka orang sunda harus banyak ilmunya, luas wawasannya, ahli dalam bidangnya serta bijaksana dalam tindakannya (adaptif) serta terintegrasi dengan lingkungannya. Kesemuanya diraih melalui proses belajar dan latihan pada paguron-paguron (perguruan) dengan penuh perjuangan. Nilai (Value) ungakapan di atas, memberi petunjuk kepada kita bahwa untuk mencapai suatu kemajuan perlu perjuangan melalui proses pendidikan dan pelatihan, karena pendidikanlah yang akan mengantarkan anak didik mempunyai wawasan, pengetahuan dan keterampilan, serta sikap dan nilai hidup.
Pembangunan Pendidikan Berbasis Kesundaan

Dasar Filosofi

Kalau seandainya kita mau sedikit terbuka, dan mau berintrospeksi, terutama menyangkut Budaya Sunda, banyak nilai-nilai kesundaan yang berkaitan dengan orientasi pembangunan dalam bidang peningkatan sumber daya manusia.. Bagi masyarakat Sunda filosopi tentang hal tersebut yaitu bagimana cara membentuk manusia yang berbasiskan “Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer”.

Realisasi Program

– Bagaimana membentuk peserta didik dengan berorientasi pada konsep “Cageur”

Kata “Cageur” dalam Bahasa Sunda mengandung pengertian sehat, sehat dimaksud merupakan sehat jasmani dan rohani. Sehingga pertanyaan bagimana membentuk peserta didik yang berorientasi pada konsep “cageur” berarti pula bagimana membentuk peserta didik yang sehat jasmani dan rohaninya.

Untuk mencapai hal tersebut, harus dikembangkan metode-metode pengajaran yang dapat menjadikan peserta didik sehat jasmani dan rohaninya. Sehat jasmani bisa ditempuh dengan pelaksanaan olah raga dan pencanangan sejak dini pola hidup sehat dengan berwawasan lingkungan. Dalam budaya sunda, orang-orang pada jaman dahulu untuk menjaga kesehatan jasmaninya dilaksanakan dengan cara olah raga beladiri, atau yang sering kita sebut “Maen Po” dengan iringan ”Tepak Tilu” atau Pencak Silat seperti yang kita kenal pada saat ini. Untuk menjaga kesehatan dengan berorientasi pada keseimbangan lingkungan, bisa dilaksanakan penanaman nilai-nilai sejak dini untuk kembali ke alam, “Balik Ka Lembur”, yaitu dengan mengajarkan kepada siswa didik menggunakan bahan-bahan yang alami, memahami kehidupan dan penghidupan dipedesaan. Untuk kesehatan rohaninya perlu dikembangkan pembinaan dengan nilai-nilai agama, konsep reelnya, harus ada penambahan porsi pendidikan agama di sekolah, mulai pendidikan dasar peserta didik harus dituntut untuk bisa “ngaos/ngaji Al Qur’an”, bisa berbahasa Arab, dan amalan-amalan yang lainnya. Untuk menjaga kesehatan rohani lainnya, perlu dikembangkan pola rekreasi, terutama pola rekreasi yang berbasiskan “pilemburan”. Hal tersebut bertujuan selain sebagi wahana rekreasi siswa, dapat juga berfungsi sebagai tempat untuk mengenalkan kepada siswa tentang situasi dan kondisi pedesaan/pilemburan.

–  Bagaimana membentuk peserta didik dengan berorientasi pada konsep “Bageur”

Kata “Bageur” dalam Bahasa Sunda mengandung pengertian baik. Konsep “baik” akan terkait dengan permasalahan norma dan tata nilai yang berkembang dalam masyarakat. Norma dan tata nilai merupakan konsep dari kesopanan, sehingga orientasi bagaimana membentuk peserta didik yang “Bageur” pada intinya merupakan upaya bagimana membuat peserta didik yang mempunyai nilai-nilai kesopanan, mempunyai nilai-nilai tata krama. Dalam Budaya Sunda dikenal pola-pola sikap: “Kumaha basa jeng rengkak polah ka saluhureun, ka sasama, ka sahandapeun”. Untuk menjawab permasalahan tersebut harus dikenalkan sejak dini mulai dari kelas satu sekolah dasar sampai dengan sekolah tingkat atas pendidikan Bahasa Sunda dan tata krama (pola tingkah laku). Tata krama dimaksud harus diupayakan berorientasi pada budaya masyarakat setempat, dalam hal ini Budaya Sunda.

Sinonim kata “tatakrama”, yaitu sopan-santun. Jadi tatakrama Sunda berarti “sopan-santun menurut norma orang Sunda”. Bila dipertajam lagi, norma orang Sunda yang mana ?, yaitu mengacu kepada norma “urang Sunda nu ilahar” (biasa,umum). “Ilahar” dalam arti “kelompok besar yang cenderung seragam dalam perilaku sopan-santunnya”. Dalam kaidah tatakrama Urang Sunda ada beberapa unsur yang sangat mengikat, yaitu kemampuan dalam: Bahasa. Variannya: Ragam Halus (Basa Lemes), Ragam Sedang (Basa Sedeng), Ragam Akrab (Basa Loma, Kasar), Ragam bahasa untuk anak-anak (Basa Lemes, Budak), ragam basa Lemes Kampung, Ragam Basa tanggung (Basa loma kagok) dan ragam bahasa Kasar Sekali (Basa Resag, Garihal). mengacu kepada sosio-kultural secara geografis (Tatar Sunda, Parahyangan).

Langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam menamkan tata krama tersebut kepada peserta didik, sebagi berikut : Langkah pertama yaitu meyakini peran dan kemanfaatan tatakrama Sunda. Setelah itu mulailah mempelajari segala sesuatu tentang unsur-unsur Tatakrama Sunda. Langkah berikutnya, unsur-unsur tatakrama Sunda yang telah dipelajari, dipilih dan carilah mana saja yang bisa dan harus tetap dipakai dalam perilaku keseharian, baik dalam pergaulan keluarga, lokal, nasional maupun internasional. Tentu saja dengan catatan bahwa unsur tatakrama Sunda itu harus dapat diterima oleh lingkungan yang dimasukinya. Langkah terakhir, pengetahuan tentang tatakrama Sunda itu harus secara sadar dilatih dan digunakan dalam hidup keseharian. Sebab kemampuan bertatakrama pada dasarnya adalah kebiasaan yang dipakai sehari-hari, hasil proses belajar yang terus menerus. Selanjutnya mendorong peserta didik untuk menularkan ke lingkungan sekeliling, mulai dari keluarga sampai masyarakat sekitarnya.

–  Bagaimana membentuk peserta didik dengan berorientasi pada konsep “Bener”

“Bener” berarti pendidikan harus dapat membimbing anak agar patuh dan taat pada norma/ aturan yang berlaku baik Agama, Darigama, maupun Negara. Pendek kata, yaitu bagimana menciptakan iklim pendidikan agar anak berdisiplin.

–  Bagaimana membentuk peserta didik dengan berorientasi pada konsep “Pinter”

Kata “Pinter”, dalam Bahasa Sunda berarti cerdas, berorientasi pada penguasaan aspek kognitif dari pendidikan. Pertanyaan, bagimana membentuk sumber daya manusia dengan berorientasi pada konsep “pinter”, berarti pula bagaimana membentuk SDM yang cerdas, cerdas dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Dalam filosofi Sunda sering kita dengar “Luhung ku elmu jembar ku pangabisa”. Konsep reelnya, peserta didik harus diarahkan untuk menguasai konsep pengetahuan dan teknologi yang berbasis kompetensi, terutama kompetensi di bidang pertanian. Karena harus di sadari bahwa untuk Kabupaten Purwakarta, areal persawahan dan perkebunan masih teramat luas, sehingga tangan-tangan terampil di bidang pertanian sangat diperlukan untuk pengelolaannya, “Lamun lain urang Purwakarta, nya rek saha deui”.

–  Bagaimana membentuk peserta didik dengan berorientasi pada konsep “Singer”

Dalam terminology Bahasa Sunda, Singer diartikan sebagai terampil, ahli, profesional dalam bidangnya. Orientasi konsep “singer” harus diarahkan kepada penguasaan keterampilan dan teknologi diantaranya dalam bidang pertanian. Peserta didik sejak dini harus sudah dikenalkan kepada pekerjaan-pekerjaan “pilemburan”. Peserta didik harus diajarkan bagaimana caranya mengolah sawah, mencangkul, membajak, dan bercocok tanam. Di sekolah-sekolah harus dimulai untuk diberikan ruang bagi adanya kebun sekolah, sebagai tempat penuangan kreativitas siswa dalam bidang pertanian. Tidak terbatas sampai disitu, anak juga diajak berpikir tentang teknologi pengolahan pasca panen dalam rangka meningkatkan nilai tambah.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, yaitu membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) Purwakarta yang berbasis pada konsep “Cageur, Bageur,Bener, Pinter”. Sebagai pilot project sudah ditetapkan untuk membangun SD Kahuripan Padjadjaran, yang secara umum menggunakan metode dan pendekatan sebagaimana dipaparkan di atas. SD Kahuripan Padjadjaran bertempat di Kompleks Perumahan Dian Anyar Kelurahan Cisereuh Kecamatan/Kabupaten Purwakarta.***

 

SUMBER :

http://purwakartakab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=87:pembangunan-pendidikan-yang-berbasis-nilai-nilai-kesundaan&catid=80:wacana&Itemid=93

4 responses to “PEMBANGUNAN PENDIDIKAN YANG BERBASIS NILAI – NILAI KESUNDAAN

  1. info menarik.. trima kasih ..

  2. urang sunda ulah ngan saukur ngaku hungkul tapi kudu apal kana susunan dasar agamana,lamun geus apal eta karek urang sunda…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s