NASI TUTUG ONCOM


TANGAN Astuti sibuk mengaduk dan mencampurkan oncom dengan nasi yang masih hangat. Ditambah sedikit bawang goreng, irisan telur dadar, sambal terasi, lalapan, serta ikan asin goreng, lengkaplah sudah satu porsi nasi tutug oncom.
Ditata di atas anyaman bambu yang dilapisi daun pisang dan disajikan dengan teh hangat, penampilan nasi tutug oncom begitu menggoda selera. Baunya yang sedap serta penampilannya yang menarik membuat hati tergoda untuk mencobanya.

“Saya berjualan tutug oncom sudah satu tahun dan peminatnya lumayan banyak,” kata Astuti, yang berjualan nasi tutug oncom di Taman Cilaki, Bandung, Jawa Barat.
Menurut Astuti, setiap hari dia bisa menjual nasi tutug oncom hingga 25 porsi. Namun, jika hari Sabtu atau Minggu, Astuti dapat menjual hingga 35 porsi.
Dengan harga relatif murah, hanya Rp 3.500 per porsi, membuat makanan ini banyak diminati. Peminat makanan khas Jawa Barat ini, kata Astuti, tidak hanya berasal dari Jawa Barat. “Ada langganan saya yang berasal dari Sumatera. Setiap minggu dia makan di sini,” kata Astuti.
Senada dengan Astuti, Supervisor Pastry Hotel Mitra Bandung Dedi Sumiadi mengaku nasi tutug oncom menjadi primadona di Kafe Mitra. Dedi, yang baru mencoba membuat nasi tutug oncom sejak tiga bulan lalu, semula tidak menyangka makanan ini akan diminati banyak orang.
“Tadinya idenya karena saya ingin ada sesuatu yang unik dan berbeda di kafe ini. Lalu saya teringat ketika kecil sering menyantap nasi tutug oncom. Saya mencoba membuatnya sendiri. Ternyata, banyak juga pelanggan yang suka,” kata Dedi.
Menurut Dedi, setiap hari dia bisa menjual nasi tutug oncom hingga sepuluh porsi. Jumlah ini, katanya, termasuk banyak. Bahkan, terkadang dirinya menerima pesanan untuk membuat tumpeng dari nasi tutug oncom.
“Saya harus membuat lima buah tumpeng dari nasi tutug oncom. Itu hal yang baru juga untuk saya. Biasanya, kan, tumpeng terbuat dari nasi kuning atau nasi putih,” ujar Dedi.
Bahan tumpengnya yang “istimewa” membuat Dedi menatanya secara istimewa pula. Lauk yang melengkapi nasi tumpeng buatannya bukanlah perkedel kentang, telur, atau ayam seperti yang lazim tersedia pada nasi tumpeng biasa. Lauk yang melengkapi nasi tumpeng dari tutug oncom ini adalah tahu goreng, tempe goreng, ayam goreng, serta ikan asin. Selain itu, tak ketinggalan lalap sayur-sayuran, emping, dan sambal terasi.
Rasanya yang gurih membuat tutug oncom sudah cukup nikmat disantap dengan lauk yang sederhana. “Nasi tutug oncom ini rasanya sudah gurih, jadi enggak perlu lagi dimakan dengan macam-macam lauk,” kata Dedi.
Astuti dan Dedi menyajikan tutug oncom dengan alat makan tradisional. Bukan berupa piring kaca seperti yang lazim digunakan untuk makan, tetapi piring tradisional. Dedi memilih menggunakan piring dari tanah liat, sedangkan Astuti menggunakan tempat makan dari anyaman bambu yang dialasi daun pisang.
SEBENARNYA tidak ada yang tahu pasti asal muasal nasi tutug oncom. Selain sudah ada secara turun-temurun, nasi tutug oncom seolah sudah menjadi makanan wajib bagi orang Sunda sejak zaman dahulu.
Menurut Pupuhu Caraka Sundanologi Bandung Adang S, sejak tahun 1940-an nasi tutug oncom sudah disajikan sebagai teman sarapan. Awalnya, kata Adang, oncom tersebut hanya dibakar dan ditambah garam, tanpa diberi bumbu macam-macam.
Oncom bakar tersebut lalu dijadikan teman makan nasi. Disajikan dengan teh tanpa gula, oncom bakar biasanya dimakan pada pagi hari sebagai teman sarapan. “Orang Sunda zaman dulu, meski punya peliharaan ayam atau ikan, tidak pernah makan hewan peliharaan tersebut. Hewan-hewan tersebut baru dipotong saat Lebaran tiba,” kata Adang.
Kebiasaan suku Sunda tersebut membuat oncom seolah menjadi makanan wajib. Bisa dipastikan, pada zaman dahulu hampir setiap rumah memiliki kebiasaan memasak nasi tutug oncom. Selain rasanya yang gurih, pembuatan nasi tutug oncom ini relatif mudah dan murah.
Lambat laun orang mulai memodifikasi nasi tutug oncom. Oncom tersebut tidak hanya ditambah garam, tetapi juga diberi berbagai bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, kencur, cabe merah, dan gula merah. Uniknya, pada campuran nasi, oncom, dan bumbu-bumbu tersebut juga ditambahkan kerupuk aci (tapioka) yang sudah diremas-remas.
“Kalau dulu, nasi tutug oncom selalu dihidangkan dengan opak ketan. Dalam membuat opak, tidak perlu dibakar, tetapi cukup dideang di atas bara api,” kata Adang. Opak sendiri adalah makanan sejenis kerupuk, khas Sunda, dan terbuat dari ketan.
Kini, nasi tutug oncom yang asli, yang disaji- kan dengan opak ketan, sudah sulit ditemui. Nasi tutug oncom yang disajikan Astuti dan Dedi pun tidak disajikan dengan opak. Astuti menyajikannya dengan kerupuk aci, sedangkan Dedi dengan emping melinjo.
Kendati demikian, baik Astuti maupun Dedi mengaku nasi tutug oncom yang mereka buat adalah nasi tutug oncom yang asli. Alasannya, nasi tutug oncom semacam itulah yang disajikan ketika mereka masih kecil dulu.
“Dari dulu yang namanya nasi tutug oncom ya kayak gini ini,” kata Astuti. Perbedaan rasa, menurut Astuti, tergantung pada jenis oncom yang digunakan. Oncom sendiri ada dua jenis. Ada oncom yang berasal dari bungkil kelapa dan ada yang terbuat dari kacang kedelai.
Oncom yang baik untuk dijadikan nasi tutug, tambah Astuti, adalah oncom yang terbuat dari kacang kedelai dan masih baru dibuat. “Kalau oncomnya sudah agak lama, rasanya enggak enak,” katanya.
Dedi, sebaliknya, memilih oncom kacang kedelai yang didiamkan terlebih dahulu. Oncom yang sudah agak “lama”, katanya, rasanya “pas” dengan selera.
Keduanya bahkan memiliki penjual oncom langganan yang kualitas bahan dan rasanya sesuai dengan selera mereka. Apabila oncom tersebut diganti dengan oncom buatan lain, Astuti dan Dedi mengaku, “kekhasan” nasi tutug oncom buatan mereka seolah hilang.
Sebaliknya, Adang mengatakan, dirinya lebih suka nasi tutug oncom yang dibuat menggunakan oncom dari bungkil kelapa. Selain lebih gurih, menurut dia, nasi tutug oncom dari bungkil kelapa sangat sesuai dengan lidahnya.
“Apalagi kalau dimakan pakai opak, dengan nasi yang pulen dan teh hangat, rasanya nikmat sekali,” kata Adang. Akan tetapi, ujar Adang, kini sudah sulit mencari nasi tutug oncom yang sesuai seleranya. Selain oncom dari bungkil kelapa sulit ditemukan, nasi hangat dan pulen pun kini semakin langka. Nasi hangat mungkin ada, tetapi nasi yang pulen agak sulit mencarinya.
PERBEDAAN cara membuat, bahan oncom yang digunakan, serta tambahan lauk yang disajikan memang membuat variasi nasi tutug oncom semakin beragam. Namun, rasa nasi tutug oncom yang asli tidak ada yang pernah tahu. Standar pembuatan nasi tutug oncom itu sendiri memang tidak pernah ada.
Kelihatannya memang soal yang sepele, hanya masalah originalitas suatu masakan. Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh dianggap remeh jika sudah menyangkut budaya suatu bangsa.
“Masakan khas suatu daerah sebetulnya menunjukkan ciri khas dan budaya daerah itu,” kata Dedi. Dia mengaku sempat kesal dan sedikit kelimpungan ketika akan “menciptakan” nasi tutug oncom kreasinya. Pasalnya, kata Dedi, dari berbagai buku masakan yang dibacanya serta konsultasi dengan pakar yang dianggapnya mengerti masalah budaya Sunda, tidak satu pun yang tahu mengenai nasi tutug oncom.
Padahal, sambung Dedi, seharusnya nasi tutug oncom dapat dikenal sebagai ciri khas daerah Jawa Barat.
Seperti nasi timbel, yang kini telah mendunia, nasi tutug oncom pun seharusnya dapat diangkat ke level yang lebih tinggi. Tidak hanya terkenal di Jawa Barat, tetapi juga di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
Menurut Adang, minimnya pengetahuan generasi muda tentang kebudayaan daerah, termasuk makanan, karena kebudayaan daerah sudah mulai tergerus kebudayaan asing. Derasnya arus informasi membuat kaum muda seolah “meninggalkan” segala sesuatu yang berbau tradisional.
Pendapat Adang ada benarnya juga. Beberapa anak muda yang ditemui Kompas mengaku tidak tahu tentang nasi tutug oncom. Kania, misalnya. Mojang Bandung ini mengaku hanya pernah mendengar nama nasi tutug oncom, tanpa pernah mencicipi rasanya.
“Tutug oncom? Kayaknya aku pernah denger. Tapi aku belum pernah coba rasanya. Lagian enggak tahu juga yang jualnya di mana. Kayaknya jarang ya,” kata Kania.
Dahulu, kata Adang, nasi tutug oncom memang tidak dijual. Umumnya setiap rumah tangga mampu membuat nasi tutug oncom. Entah kenapa, lambat laun nasi tutug oncom ini mulai dilupakan orang.
Kompas
Bahan :
– 8 siung bawang merah- 3 siung bawang putih- 2 luas kencur- 1 kotak oncom (250 gram)- Garam secukupnya- 1 piring nasi- Penyedap rasa (Sesuai keinginan)
Cara Pembuatan :1. Tumbuk bawang merah, bawang putih dan kencur.2. Haluskan oncom.3. Panaskan wajan tanpa minyak, masukkan oncom bersama bawang merah, bawang putih dan kencur.4. Campurkan nasi dengan oncom yang telah dicampur.5. Tutug oncom siap disantap.

 

SUMBER :

http://www.pasundan.info/food/nasi-tutug-oncom.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s