WISATA PLERED, DARI KERAMIK HINGGA DANAU CIRATA


Laju kendaraan yang melintas di ruas jalan Plered, Kabupaten Purwakarta tersendat. Lubang-lubang menganga di sepanjang ruas jalan, memaksa pengemudi ekstra hati-hati dan harus “bermanuver” di jalan yang rusak parah itu.
Namun kekesalan para pengendara itu, terobati saat melihat pemandangan di sebelah kiri-kanan jalan. Keramik asli Plered yang yang dipajang di toko-toko besar hingga kios kecil berukuran 4×4 meter sangat menawan mata. Beberapa pengendara bahkan memutuskan untuk berhenti sejenak demi keramik Plered nan memesona itu.
Jalan menuju Kecamatan Plered, sekira 15 kilometer dari pusat kota Purwakarta beberapa bulan terakhir kian hancur. Itu membuat pengunjug ke sentra keramik di Plered menurun. Pedagang keramik, A. Rifa`i (52) mengaku dalam beberapa bulan terakhir penjualan keramik Plered agak menurun.
“Dalam sepekan, hanya ada sekira tiga hingga empat pembeli saja yang datang,” kata dia.
Tokonya yang menjajakan aneka jenis keramik, seperti berbentuk celengan, perkakas dapur, asbak rokok, vas bunga, mainan anak-anak, dan aksesori untuk rumah, tidak saban hari disinggahi pembeli.
Guci mirip buatan Cina juga banyak dijumpai di jajaran toko tersebut. Harga produk keramik itu berkisar antara Rp5.000 hingga Rp300.000. (ANT-M. Ali Khumaini).
Tahun lalu, kata Rifa`i, setiap hari selalu saja ada pembeli, bahkan beberapa turis asing seperti dari Jepang, Thailand, dan Italia sengaja datang ke Plered hanya untuk memborong keramik.
Namun semenjak jalan rusak, pelancong dari Purwakarta maupun dari luar Purwakarta kian menurun. Meski demikian, Rifa`i dan sejumlah pedagang keramik di Plered tetap bertahan.
“Membuat keramik itu satu-satunya keahlian saya. Jadi, saya wajib mempertahankan,” katanya.
Plered sudah menjadi sentra produksi keramik sejak tahun 1904. Pengusaha keramik Plered jumlahnya lebih dari seratusan orang.
Pada awalnya, masyarakat sekitar membuat keramik dari tanah liat merah hanya untuk memenuhi perkakas rumah tangga masing-masing. Tapi, dalam perkembangannya, kerajinan tersebut mampu menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Keahlian membuat keramik diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya tanpa melalui jenjang pendidikan formal.
Untuk membuat keramik yang berkualitas tinggipun, para pengrajin hanya berlandaskan pengalaman.
Keramik Plered berbahan baku tanah liat yang biasa diambil dari areal persawahan di sekitar Desa Citeko, Kecamatan Plered, Purwakarta, yang sudah tidak terpakai atau tanah areal persawahan yang sengaja dijual oleh pemilik sawah. Biasanya, tanah liat itu dijual seharga Rp30 ribu per meter.
Setelah melewati sentra keramik, pelancong harus kembali fokus ke jalan yang rusak dan berdebu, serta kemacetan parah di pertigaan Plered.
Berbagai jenis kendaraan, mulai dari kendaraan pribadi, angkot, truk besar, tampak melintasi jalan selebar tiga meter tersebut. Sementara angkot, ojek motor, dan delman “ngetem” di sekitar pertigaan pasar Plered.
Selain keramik, Plered juga masyhr dengan genteng. Ribuan genteng dijemur di hampir setiap titik sisi jalan, sekitar Desa Citeko.
Genteng-genteng yang masih basah itu memang sengaja dijemur agar cepat kering.
Genteng-genteng yang biasa diproduksi oleh puluhan pengusaha beraneka ragam, diantaranya jenis genteng kodok, palentang biasa, palentang plat, morando, dan genteng jenis turbo.
Saat ini, para pengusaha genteng di sekitar Kecamatan Plered merasa senang, karena pasca kenaikan harga BBM ini, pemesan genteng meningkat. Selain itu, sesuai dengan tren penjualannya, peningkatan pemesan genteng itu juga disebabkan faktor menjelang pergantian presiden.
“Kami sudah memproduksi genteng sejak zaman Presiden Soeharto. Tidak tahu sebabnya secara pasti, setiap kali jeda waktu satu tahun sebelum pergantian presiden, pemesan genteng selalu mengalami peningkatan,” katanya.

Danau Cirata
Selain keramik, Plered juga masyhur dengan Danau Cirata. Jalan menuju kawasan ini relatif mulus meski tidak begitu lebar dan berkelok-kelok.
Jalan berkelok itu memutari bebukitan dengan hamparan hijaunya areal persawahan dan pepohonan dari ketinggian.
Memasuki Desa Cirata, tampak sebuah jembatan panjang yang di sebelah kanannya terdapat Danau Cirata dan sebelah kirinya terdapat pemandangan pegunungan yang indah.
Danau seluas sekira 62 km2 dan dengan ketinggian maksimum 220 meter di atas permukaan laut yang dikeliling bukit itu berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menghasilkan listrik 100 MW dan mampu membangkitkan energi listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt/jam per tahun.
Di Danau Cirata ini adalah delapan buah turbin dan gedung sentral/Power House empat lantai yang berada di terowongan bawah tanah atau di dalam Bukit Cirata.
Di sekitar Danau Cirata, mata pengunjung dimanjakan dengan pemandangan elok. Pengunjung juga bisa menikmati makanan khas daerah setempat. Rata-rata, para pedagang di sekitar Danau Cirata itu menjajakan nasi liwet dengan lauk pauk ikan bakar dan sate maranggi khas Plered.
Memandangi danau dan keindahan alam memang terasa mengasyikkan sambil memakan nasi liwet dengan sate maranggi dan ikan bakar. (ANT).

SUMBER :

http://www.lepmida.com/column.php?id=62&awal=210

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s